Cara Membuat Pestisida Organik GACASI dan Tanaman Herbal

Pestisida adalah zat pengendali hama (seperti: ulat, wereng dan kepik). Pestisida Organik adalah pengendali hama yang dibuat dengan memanfaatkan zat racun dari gadung dan tembakau. Karena bahan-bahan ini mudah didapat oleh petani, maka pestisida organik dapat dibuat sendiri oleh petani sehingga menekan biaya produksi dan akrab dengan lingkungan. 
Penggunaan pestisida organik juga harus dilakukan dengan hati-hati dan dengan kesabaran serta ketelitian. Banyaknya pestisida organik yang disemprotkan ke tanaman harus disesuaikan dengan hama. Waktu penyemprotan juga harus diperhatikan petani sesuai dengan siklus perkembangan hama. Pestisida organik dapat menjamin keamanan ekosistem. Dengan pestisida organik hama hanya terusir dari tanaman petani tanpa membunuh. Selain itu penggunaan pestisida organik dapat mencegah lahan pertanian menjadi keras dan menghindari ketergantungan pada pestisida kimia.
Untuk pencegahan adanya hama, penyemprotan dapat dilakukan secara periodik pada tanaman sayuran. Sebaiknya dalam waktu satu minggu sekali atau disesuaikan dengan ada tidaknya hama karena hama selalu berpindah.
Bahan baku Pestisida organik dapat diperoleh dari biji mahoni, kunyit, jahe, serai dan cabe. Pembuatannya dengan dihaluskan, diberi air, diperas dan disaring . Untuk cabe saat penyemprotan harus hati-hati jangan sampai berbalik arah mengenai manusia. Pestisida dari mahoni untuk mengatasi hama tanaman terong dan pare. Kunyit, jahe, serai untuk mengatasi jamur tanaman dan buah. Cabe untuk mengatasi semua jenis hama kecuali hama di dalam tanah.
Selain dengan pestisida organik buatan, pengusiran hama lalat buah juga dapat dilakukan dengan pengalihan perhatian hama pada warna-warna yang disukainya. Caranya dengan memasang warna tertentu yang bisa menarik lalat buah di sekitar tanaman. Pertanian secara tumpang sari juga bisa menjadi alternatif mengurangi hama tanaman tertentu.

1. Petisida Organik GACASI (Gadung, Cabe merah dan Daun sirih)
Bahan-bahan
  • Gadung : 4 kg
  • Cabai merah : 2 on
  • Daunsirih : 2 kg
  • Air : 15 ltr
Cara membuatnya
  1. Gadung, cabai dan daun sirih digiling halus dan campurkan dengan rata
  2. Tambahkan air, aduk sampai rata dan disaring, air ramuan merupakan induk pestisida.
Cara Pemakaian
14 liter air dicampur dengan pestisida 250 cc (1 gelas), semprotkan ke lahan pada waktu pagi/sore hari, ulangi 4-5 hari sekali.
Sasaran OPT
Penggerek batang, wereng, walang sangit, thrip, aphia, serangga kecil lainnya.

2. Pestisida Organik Tanaman Herbal
Kita sering merasa waswas bila anak kita akan bisa menjangkaunya.  Nah, semoga artikel tentang pembuatan pestisida alami ini dapat membantu memecahkan persoalan Anda (petani) dalam melindungi kebun (lahan pertanian) sekaligus keluarga.
- Tanaman Mimba
Cara pembuatannya
  1. 2 genggam bijinya, kemudian ditumbuk.  Campur dengan 1 liter air, kemudian diaduk sampai rata.   Biarkan selama 12 jam, kemudian disaring.  Bahan saringan tersebut merupakan bahan aktif yang penggunaannya harus ditambah dengan air sebagai pengencer.
  2. Cara lainnya adalah dengan menggunakan daunnya sebanyak 1 kg yang direbus dengan 5 liter air. Rebusan ini diamkan selama 12 jam, kemudian saring. Air saringannya merupakan bahan pestisida alami yang dapat digunakan sebagai pengendali berbagai hama tanaman.
- Tembakau
Tembakau diambil batang atau daunnya untuk digunakan sebagai bahan pestisida alami.  Caranya rendam batang atau daun tembakau selama 3 - 4 hari, atau bisa juga dengan direbus selama 15 menit.  Kemudian biarkan dingin lalu saring.  Air hasil saringan ini bias digunakan untuk mengusir berbagai jenis hama tanaman.

- Tuba, Jenu
Bahan yang digunakan bisa dari akar dan kulit kayu. Caranya dengan menumbuk bahan tersebut sampai betul-betul hancur.   Kemudian campur dengan air untuk dibuat ekstrak.  Campur setiap 6 (enam) sendok makan ekstrak tersebut dengan 3 liter air.  Campuran ini bisa digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama tanaman.

- Temu-temuan
Bahan diambil dari rimpangnya, yang kemudian ditumbuk halus dengan dicampur urine (air kencing) sapi. Campuran ini diencerkan dengan air dengan perbandingan 1 : 2 - 6 liter.  Gunakan untuk mengendalikan berbagai jenis serangga penyerang tanaman.

- Kucai
Kalau menggunakan kucai, cara meramunya adalah dengan menyeduhnya, yang kemudian didinginkan.  Kemudian saring.  Air saringannya ini mampu untuk memberantas hama yang biasanya menyerang tanaman mentimun.

- Bunga Camomil
Bunga yang sudah kering diseduh, kemudian dinginkan dan saring.  Gunakan air saringan tersebut untuk mencegah damping off atau penyakit rebah.

- Bawang Putih
Bawang putih, begitu juga dengan bawang bombai dan cabai, digiling, tambahkan air sedikit, dan kemudian diamkan sekitar 1 jam.   Lalu berikan 1 sendok makan deterjen, aduk sampai rata, dan kemudian ditutup.  Simpan di tempat yang dingin selama 7 - 10 hari.  Bila ingin menggunakannya, campur ekstrak tersebut dengan air.  Campuran ini berguna untuk membasmi berbagai hama tanaman, khususnya hortikultura.

- Abu Kayu
Abu sisa bakaran kayu ditaburkan di sekeliling perakaran tanaman bawang bombay, kol atau lobak dengan tujuan untuk mengendalikan root maggot.  Abu kayu ini bisa juga untuk mengendalikan serangan siput dan ulat grayak.  Caranya, taburkan di sekeliling parit tanaman.

- Daun Mint
Daun mint dicampur dengan cabai, bawang daun dan tembakau.  Kemudian giling sampai halus untuk diambil ekstraknya.  Ekstrak ini dicampur dengan air secukupnya.  Dari ekstrak tersebut bisa digunakan untuk memberantas berbagai hama yang menyerang tanaman.

- Kembang Kenikir
Ambil daunnya 2 genggam, kemudian campur dengan 3 siung bawang putih, 2 cabai kecil dan 3 bawang bombay.  Dari ketiga bahan tersebut dimasak dengan air lalu didinginkan.  Kemudian tambahkan 4 - 5 bagian air, aduk kemudian saring.  Air saringan tersebut dapat digunakan untuk membasmi berbagai hama tanaman.

- Cabai Merah
Cara pembuatannya dengan mengeringkan cabai yang basah dulu.  Kemudian giling sampai menjadi tepung.  Tepung cabai tersebut kalau dicampur dengan air dapat digunakan untuk membasmi hama tanaman.

- Tanaman Sedudu
Sedudu (sejenis tanaman patah tulang) diambil getahnya.  Getah ini bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan berbagai hama tanaman.

- Tanaman Kemanggi
Cara pembuatannya: kumpulkan daun kemangi segar, kemudian keringkan.  Setelah kering, baru direbus sampai mendidih, lalu didinginkan dan disaring.  Hasil saringan ini bisa digunakan sebagai pestisida alami.

- Tanaman Dringo
Akar dringo dihancurkan sampai halus (menjadi tepung), kemudian dicampur dengan air secukupnya. Campuran antara tepung dan air tersebut dapat digunakan sebagai bahan pembasmi serangga.

- Tanaman Tembelekan
Daun dan cabang tembelekan dikeringkan lalu dibakar.  Abunya dicampur air dan dipercikkan ke tanaman yang terserang hama, baik yang berupa kumbang maupun pengerek daun.

- Rumput Mala
Caranya bakar tangkai yang kering dari rumput tersebut.  Kemudian manfaatkan asap ini untuk mengendalikan hama yang menyerang suatu tanaman. 

- Tomat
Gunakan batang dan daun tomat, dan dididihkan.  Kemudian biarkan dingin lalu saring.  Air dari saringan ini bisa digunakan untuk mengendalikan berbagai hama tanaman.

- Tanaman Gamal
Daun dan batang gamal ditumbuk, beri sedikit air lalu ambil ekstraknya.  Ekstrak daun segar ini dan batang gamal ini dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama tanaman, khususnya jenis serangga.

- Bunga Mentega
Gunakan daun dan kulit kayu mentega dan rendamlah dalam air biasa selama kurang lebih 1 jam, kemudian disaring.  Dari hasil saringan tadi dapat digunakan untuk mengusir semut.

Bahan Bahan Campuran Pestisida Organik Tanaman Herbal
1. Insektisida Organik Serba Guna 
Bahan
  • Air cucian beras (leri) sebanyak 1 liter.
  • Alkohol 10 sendok makan atau dapat diganti dengan 2 butir ragi.
  • Cuka 10 sendok makan.
  • Gula pasir 1kg
  • Perasan umbi gadung 10 sendok makan.
  • Bakteri 10 sendok makan.
  • Daun klekeh, daun sirih, daun kecubung, daun mahoni, daun sirsak
  • masing-masing satu genggam dan ditumbuk halus.
Cara Pembuatan
  1. Seluruh bahan dicampur dan diaduk menjadi satu dan didiamkan selama
  2. 3 hari
  3. Bahan siap digunakan dengan cara mencampurkan air sebanyak 10-15
  4. liter untuk 1 gelas
  5. Sebelum digunakan tambahkan larutan air tumbukan bawang putih atau cabai.
Kegunaan : Dapat mengendalikan berbagai hama

2. Mengatasi Ulat
Bahan
  • Daun gamal 1 kg
  • Air 5 liter
  • Tembakau 2 ½ gram
Cara Pembuatan
  1. Daun gamal ditumbuk sampai halus dan dimasak dengan 5 liter air, lalu
  2. dinginkan.
  3. Tambahkan tembakau sambil diaduk-aduk.
  4. Didiamkan selama satu malam.
  5. Air sarinya siap digunakan dengan perbandingan ¼ liter untuk 10 liter air.
Kegunaan : Memberantas ulat gerayak dan ulat lainnya

3. Pengendali Kupu-kupu dan Ngengat
Bahan
  • Bawang putih atau bawang merah 1 kg
  • Air secukupnya
Cara Pembuatan
  1. Bahan ditumbuk halus dan tambahkan air 1 liter
  2. Diaduk-aduk hingga rata dan airnya disaring
  3. Bahan siap digunakan dengan mencampur 1 gelas dengan 10 liter air
4. Pengendali Ulat, Wereng dan Jamur
Bahan
  • Lengkuas/laos 1 kg
  • Jahe 1 kg
  • Kunyit/kunir 1 kg
  • Umbi gadung 1 kg
  • Akar jenu/tuba 1 kg
Cara Pembuatan
  1. Seluruh bahan ditumbuk atau diparut
  2. Peras airnya dan dicampur satu sama lainnya
  3. Bahan disimpan dalam botol selama 1 minggu dan siap digunakan
  4. Satu sendok bahan dapat dicampur dengan 1 liter air

5. Pemberantas Keriting Pada Cabai
Bahan
  • Abu dapur 2 kg
  • Tembakau ¼ kg
  • Bubuk belerang 3 ons
Cara Pembuatan
  1. Semua bahan dilarutkan kedalam air selama 3 – 5 hari
  2. Bahan siap digunakan dengan mencampurkan air 10 liter untuk 1 gelas

6. Fungisida organik untuk Memberantas Jamur
Bahan
  • Lengkuas/laos 1 kg
  • Kunyit/kunir 1kg
  • Jahe 1 kg
Cara Pembuatan
  1. Ketiga bahan ditumbuk atau diparut
  2. Ambil sarinya dengan cara diperas
  3. Bahan siap digunakan untuk 2 sendok makan dicampur dengan air 10 – 15 liter
"Semoga Bermanfaat dan Jangan Lupa Share ke Sahabat-Sahabat Tani"
Salam Pertanian

Cara Membuat Pestisida Organik Hama Penyakit dan NIKURAK

Pestisida Organik adalah pengendali hama yang dibuat dengan memanfaatkan zat racun dari gadung dan tembakau. Karena bahan-bahan ini mudah didapat oleh petani, maka pestisida organik dapat dibuat sendiri oleh petani sehingga menekan biaya produksi dan akrab dengan lingkungan. 

Penggunaan pestisida organik juga harus dilakukan dengan hati-hati dan dengan kesabaran serta ketelitian. Banyaknya pestisida organik yang disemprotkan ke tanaman harus disesuaikan dengan hama. Waktu penyemprotan juga harus diperhatikan petani sesuai dengan siklus perkembangan hama. Pestisida organik dapat menjamin keamanan ekosistem. Dengan pestisida organik hama hanya terusir dari tanaman petani tanpa membunuh. Selain itu penggunaan pestisida organik dapat mencegah lahan pertanian menjadi keras dan menghindari ketergantungan pada pestisida kimia.

Untuk pencegahan adanya hama, penyemprotan dapat dilakukan secara periodik pada tanaman sayuran. Sebaiknya dalam waktu satu minggu sekali atau disesuaikan dengan ada tidaknya hama karena hama selalu berpindah.

Bahan baku Pestisida organik dapat diperoleh dari biji mahoni, kunyit, jahe, serai dan cabe. Pembuatannya dengan dihaluskan, diberi air, diperas dan disaring . Untuk cabe saat penyemprotan harus hati-hati jangan sampai berbalik arah mengenai manusia. Pestisida dari mahoni untuk mengatasi hama tanaman terong dan pare. Kunyit, jahe, serai untuk mengatasi jamur tanaman dan buah. Cabe untuk mengatasi semua jenis hama kecuali hama di dalam tanah.

Selain dengan pestisida organik buatan, pengusiran hama lalat buah juga dapat dilakukan dengan pengalihan perhatian hama pada warna-warna yang disukainya. Caranya dengan memasang warna tertentu yang bisa menarik lalat buah di sekitar tanaman. Pertanian secara tumpang sari juga bisa menjadi alternatif mengurangi hama tanaman tertentu.

Berikut beberapa cara untuk membuat pestisida organik untuk Hama dan penyakit tanaman yang dapat dibuat sendiri.

1. Pestisida Organik untuk Hama dan Penyakit Tanaman

BAHAN
  • 2 kg gadung.
  • 1 kg tembakau.
  • 2 ons terasi.
  • ¼ kg jaringao (dringo).
  • 4 liter air.
  • 1 sendok makan minyak kelapa.
ALAT
  • Parutan kelapa.
  • Saringan kelapa (kain tipis).
  • Ember plastik.
  • Nampan plastik.
Cara Pembuatan
  1. Minyak kelapa dioleskan pada kulit tangan dan kaki (sebagai perisai dari getah gadung).
  2. Gadung dikupas kulitnya dan diparut.
  3. Tembakau digodok atau dapat juga direndam dengan 3 liter air panas
  4. Jaringao ditumbuk kemudian direndam dengan ½ liter air panas
  5. Tembakau, jaringao, dan terasi direndam sendiri-sendiri selama 24 jam. Kemudian
  6. dilakukan penyaringan satu per satu dan dijadikan satu wadah sehingga hasil
  7. perasan ramuan tersebut menjadi 5 liter larutan.
Dosis Pemakaian
  • 1 gelas larutan dicampur 5-10 liter air.
  • 2 gelas larutan dicampur 10-14 liter air.
Kegunaan
  1. Dapat menekan populasi serangan hama dan penyakit.
  1. Dapat menolak hama dan penyakit.
  1. Dapat mengundang makanan tambahan musuh alami.
Sasaran 
Wereng Batang Coklat, Lembing Batu, Ulat Grayak, Ulat Hama Putih Palsu

2. Pestisida Organik NIKURAK (Mahoni, Tembakau dan Daun jarak)

BAHAN
  • Biji mahoni : 300 gram
  • Tembakau : 100 gram
  • Daun jarak : 1 kg
  • Air : 6 ltr
Cara Membuat
  1. Biji mahoni digiling/ditumbuk halus.
  2. Daun jarak dan tembakau direbus dengan air sampai mendidih, angkat dan dinginkan. Campurkan mahoni yang sudah ditumbuk halus aduk hingga rata, kemudian diamkan selama 24 jam, lalu saring.
  3. Jika larutan pestisida organik ingin disimpan, maka pencampuran dilakukan pada saat akan digunakan.
Dosis Pemakaian
  • 30 cc larutan pestisida organik ini bias digunakan untuk satu tangki sprayer (+/- 15 liter).
  • Semprotkan ke lahan yang terkena hama pada waktu pagi atau sore hari. Ulangi tiap 4 hari sekali.
Sasaran OPT (Organisme Pengganggu Tanaman)
  • Ulat grayak : pada tanaman bawang merah, bawang putih, kedelai, jagung, kacang tanah, kacang panjang, kubis dan sawi
  • Ulat penggulung daun dan perusak daun pada tanaman padi.
Testing NIKORAK
  • Pestisida Organik NIKORAK bersifat racun kontak, dan hama yang terkena secara langsung , tingka kematiannya tinggi.
  • Populasi hama turun drastic dan timbulnya lama
  • Keluhan sampingan tidak ditemui, pada waktu setelah penyemprotan

Semoga Bermanfaat dan Jangan Lupa Share ke Sahabat-Sahabat Tani
Salam Pertanian

Cara Budidaya Jamur Tiram

Jamur terdiri dari bermacam-macam jenis, ada yang  merugikan dan ada yang menguntungkan bagi kehidupan manusia. Jamur  yang merugikan antara lain karena bersifat patogen yaitu dapat menyebabkan penyakit pada manusia, hewan, maupun  tumbuhan . diantara jamur yang menguntungkan manusia misalnya : penicillium yang menghasilkan antibiotik penisilin, jamur-jamur yang berperan dalam proses fermantasi makanan seperti kecap, tempe, tape, tauco dan lain-lain. Bahkan banyak  jenis jamur  yang dapat dikonsumsi (dimakan ) antara lain jamur kuping, jamur  tiram, jamur shiitake , jamur agaricus (campignon)dan jamur merang.

Dewasa ini budidaya jamur(Mushrooming the mushroom) yang dapat dimakan telah banyak dilakukan orang yaitu dengan menggunakan limbah pertanian sebagai media tumbuhnya. Budidaya jamur yang dapat dimakan (edible mushroom) merupakan salah satu cara mengatasi kekurangan pangan dan gizi serta menganekaragamkan pola konsumsi pangan rakyat. Dari analisa menunjukkan  bahwa kandungan mineral jamur lebih tinggi dari pada gading sapidan domba, bahkan hampir dua kali lipat jumlah garam mineral dalam sayuran. Jumlah proteinnya dua kali lipat protein asparagus, kol, kentang dan empat kali lipat dari pada tomat dan wortel serta enam kali lipat dari pada jeruk. Selain itu jamur juga mengandung zat besi, tembaga, kalium dan kapur, kaya vitamin B dan D, sejumlah enzim tripsin yang berperan sangat penting pada proses pencernaan, kalor dan kolesterolnya rendah.

Beberapa keuntungan budidaya jamur yaitu:
  • Melalui pemanfaatan bahn-bahn limbah disekitar kita akan menjadikan lingkungan kita bersih, indah dan sehat.
  • Budidaya jamur dapat diusahakan tanpa mengunakan lahan yang luas.
  • Produk jamur dapat dimanfaatkan untuk menambah gizi atau menu serta dapat menambah pendapatan keluarga.
  • Kompos bekas media tanam dapat langsung digunakan untuk pupuk kolam ikan, makanan ikan dan untuk memelihara cacing.

Budidaya Jamur Tiram Putih
Jamur tiram putih merupakan salah satu jamur kayu yang sekarang telah banyak dibudidayakan orang. Media tanam atau substratnya yang sudah umum digunakan adalah gergaji kayu alba (sengon), tetapi sembarang gergaji kayu sebetulnya dapat digunakan, tentunya kayu yang tidak beracun, kemudian dicampur dengan bahan-bahan yang lain dengan berbandingan tertentu.

 Proses budidaya jamur tiram putih adalah sebagai berikut:

Bahan dan Alat
Bahan
Bahan media tanam untuk jamur tiram putih adalah gergaji kayu (serbuk) dicampur dengan bahan-bahan dibawah ini dengan perbandingan sebagai berikut,
  • Serbuk gergaji : 100 kg
  • Bekatul atau dedak halus : 10-15 kg
  • Kalsium carbonat/ kapur(CaCo3) : 0,5 kg
  • Gips (CaSo4) : 0,5 kg
  • Pupuk TSP : 0,5 kg
  • Bibit : 25 Knatong 
  • Air : Secukupnya
Disamping itu perlu disiapkan bahan-bahan yaitu kantong plastok tahan panas ( ukuran 03 atau 04, 15 x 25 cm atau 17 x 30 cm), karet pengikat, potongan kertas koran , potongan pipa pralon (diameter 1” dan lebar 1 cm).

Alat
  • Alat pecampur seperti sekop dan cangkut 
  • Alat sterilisasi berupa : drum perebus dengan tutup dan sarangan, sumber panas (kompor minyak/ briket batu bara).
Proses Pengomposan
Sebelum ditanam bibit, bahan-bahan media tanam tersebut dikomposkan terlebih dahlu selama 15 hari dengan tahapan sebagai berikut :

  1. Serbuk gergaji yang telah benar-benar kering direndam dengan air bersih didalam suatu wadah selama 1 malam
  2. Tiriskan (sampai dikepal tidak pecah), selanjutnya tambahkan kapur beserta bekatul dan diaduk sampai rata. Biarkan dalam tumpukan selama 5 hari 
  3. Tumpukan diaduk kembali dengan ditambahkan pupuk TSP dan biarkan selam 5 hari
  4. Bahan diaduk kembali dan tambahkan gips. Biarkan lagi tumpukan itu sampai 5 hari, maka proses pengomposan telah selesai.
Proses Pembungkusan

Bahan-bahan media tanam yang telah dikomposkan dimasukkan kedalam kantong plastic. Kantong plastic pada kedua ujung pangkalnya ditekuk dedalam, sehingga setelah diisi dan dipadatkan kantong plastic dapat berdiri seberti botol.
Kantong plastic diisi kurang lebih ¾ bagian, kemudian yang ¼ bagiannya ditekuk kedalam. Untuk meletakkan kantong plastic yang telah diisi (polibek) pada bosisi terbalik yaitu bagian yang ditekuk/dilipat kedalam tetempatkna dibawah.



Proses Sterilisasi
Siapkan alat drum perebus beserta perlengkapannya. Sarangan diletakkan kira-kira 1/3 bagian drum dari bawah. Isilah drum dengan air bersih kira-kira ¼ bagian drum. Sumber panas dinyalakan, sambil media tanam dimasukkan kedalam plastic besar tahan panas yang menjulur keatas drum. Poses sterilisasi dengan uap ini dilakukan selama 6 – 8 jam pada suhu 90-95oC.

Teknik Penanaman Bibit (Inokulasi)
Setelah proses sterilisasi selesai, polibek dari drum diambil keluar dan dibiarkan dingin. Bila telah dingin, prses inokulasi dapat dilakukanyaitu dengan cara memasukkan bibit dibagian atas, usahaka merata dibagian atas permukaan media dalam polibek. Untuk mngikatkan plastic agar kuat, ujung polibek dimasukan potongan paralon (cincin), kemudian ditutup dengan potongan kertas Koran dan diikat dengan karet gelang. Saat inokulasi sebaiknya jangan sampai melebihi dari 24 jam setelah proses sterilisasi.

Pemeliharaan dan Inkubasi
Polibek yang telah di inokulasi ditempatkan pada rak-rak yang telah disediakan. Rak-rak ini sebaiknya ditempatkan dalam suatu ruangan agar suhu dan kelebabannya tidak terpengaruh oleh udara luar. Suhu dan kelembabannya diusahakan stabil sesuai dengan kondisi yang diinginkan bagi pertumbuhan jamur yaitu 24-28oC dan kelembaban udara 80-90 %. Polibek tersbut dibiarkan selama 6-8 minggu sampai meselium tumbuh memenuhi kantong plastic sehingga warnanya putih padat.

Pembuatan Polibek
Setelah polibek berwarna putih kompak (umur-6-8 minggu), maka polibek dapat dibuka dengan melepas karet dan cincin paralon. Kemudian plastic yang terbuka disebakkan keluar agar permukaan media tumbuh jamur mendapatkan udara sebanyak-banyaknya.

Pemanenan Jamur


  1. Peralatan harus dijaga selama inokulasi agar media polibek tidak terkontaminasi
  2. Penanaman bibit jamur diusahakan ditempat tertutup dan steril.
  3. Pada saat mencampur bahan-bahan media tanam sebaiknya memakai masker agar uap hasil reaksi bahan-bahan tersebut tidak terhirup masuk kedalam paru-paru.
information: Budidaya jamur tiram putih tidaklah sulit dan tidak diperlukan keahlian khusus. Modal usahannya pun tidaklah besar. Agrobisnis di masa sekarang dan akan dating sangatlah prospectus.
 Semoga tulisan ini bermanfaat.
Copyright © | by: Me